Mistakes

Retno P Present

Iklan

Title : Boncengan SepedaAuthor : Retno P.P

Genre : Friendship, Angst

Length : Ficlet 

Cast : Lovelyz’s Lee Mi Joo & Seo Ji Soo, Woo Jin Ho (OC)
💔
“Aku benar-benar ingin duduk di boncengan sepedanya.”
Mata bulat Ji Soo berbinar membayangkan dirinya yang memegang pinggang Jin Ho ditemani angin musim panas yang menerbangkan rambutnya.
“Dia tidak suka membonceng seseorang.”
Khayalan Ji Soo buyar, kini ia menatap tidak percaya pada temannya yang sejak tadi hanya diam. Mi Joo, raut wajahnya berubah tak suka setiap kali Ji Soo membicarakan Jin Ho. Bukan masalah jika hanya membahas Jin Ho, hanya saja gadis itu mengungkapkan segala ketertarikannya pada laki-laki berhidung mancung yang jauh lebih dulu membuat jantung Mi Joo berdebar.
Ya, Mi Joo juga menyukai Jin Ho. Jauh sebelum Ji Soo. Bagaimana mungkin Mi Joo betah hanya berteman saja dengan Jin Ho sejak kecil? Bukankah semua orang juga tahu kalau persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu tidak ada yang murni? Seperti itulah Mi Joo.
“Benarkah? Apa dia tidak berencana untuk membonceng pacarnya kelak?” 
“Iya jika sudah benar-benar menjadi pacar.”
Mi Joo berbohong. Sejujurnya ia tidak tahu apakah Jin Ho bersedia membonceng seseorang. Ia sendiri juga sangat ingin, hanya saja ia tidak pernah berani memintanya. 
“Kalau begitu aku harus menjadi pacarnya.”
Ji Soo tidak pernah menyadari perubahan ekspresi temannya. Ia terlalu bahagia setiap kali mengingat Jin Ho. Ia yang selalu antusias untuk bercerita tanpa pernah menanyakan apakah ada orang yang disukai Mi Joo atau tidak.
Mi Joo meremas roknya. Rasanya ia ingin berteriak ‘Aku juga menyukainya, bodoh. Aku juga ingin duduk di boncengan sepedanya. Aku juga ingin menjadi pacarnya.’ Sayangnya, gadis itu hanya bisa diam.
“Tidak bisakah kau membantuku, Mi Joo-ya? Kau kan teman kecilnya Jin Ho. Jebal.” Ji Soo mengeluarkan gaya imutnya guna merayu Mi Joo.
Jika Mi Joo boleh memuntahkan isi perutnya, maka ia akan memuntahkannya sekarang. Gaya imut gadis itu benar-benar membuatnya mual. Silahkan menjudgenya sebagai teman yang jahat. Karena jika itu menyangkut Jin Ho, maka ia bisa jahat pada siapapun yang mengganggu jalannya.
“Usahalah sendiri.” semakin terdengar jahat bukan? Ia akan terus seperti itu bahkan lebih jika Ji Soo tidak berhenti menyukai Jin Ho.
💔
Ini hari paling buruk dalam hidup Mi Joo. Ia tertinggal jauh, sangat jauh. Matanya begitu lekat menatap kepergian sepeda biru muda milik Jin Ho yang kini mendapat penumpang baru. Ji Soo tersenyum bahagia dengan tangan melingkar di pinggang laki-laki impiannya.
Bertahun-tahun ia mengenal Jin Ho, belum pernah sekali pun ia duduk di boncengan itu. Tapi Ji Soo, kenapa secepat itu? Rayuan apa yang gadis itu lancarkan pada Jin Ho-nya? Ia tidak rela. Ia yang harusnya duduk di sana. Ia yang harusnya tersenyum bahagia. Ia juga yang harusnya memeluk pinggang Jin Ho.
💔
Mata Mi Joo berkilat melihat satu-satunya sepeda yang tersisa di parkiran sekolah. Sejak melihat Jin Ho membonceng Ji Soo kemarin, ia sudah tidak menganggap Ji Soo sebagai teman lagi. Mereka musuh sekarang. Anehnya, ia tidak bisa meluapkan semua emosinya pada Ji Soo. Wajah innocent gadis itu menghipnotis bibirnya untuk terkunci rapat.
“Kenapa?” gumam Mi Joo yang masih memandang sepeda Jin Ho tanpa berkedip.
“Kenapa kau mengijinkan gadis itu? Kenapa harus gadis itu? Kenapa bukan aku? KENAPA???” Mi Joo berjongkok dengan mata berkaca-kaca.
Tangisnya pecah, terdengar begitu kencang di parkiran yang sudah sepi. Tangannya terkepal erat menahan amarah. Harusnya ia mengeluarkan emosinya ini di hadapan Ji Soo. Tapi kenapa justru ia terlihat pengecut dengan memarahi sepeda Jin Ho yang tak berdosa?
Tiba-tiba matanya berubah setajam elang menatap sesuatu. Pikirannya sedikit gila saat ini. 
💔
“Jin Ho-ya.” napas Mi Joo tersengal-sengal setelah berkeliling mencari Jin Ho ke seluruh penjuru sekolah. 
“Eoh, ada apa?” Jin Ho melepas kacamatanya dan berkedip beberapa kali sebelum menatap Mi Joo.
“Kau sudah mau pulang?”
Laki-laki itu menoleh pada jam tangannya, “Setengah jam lagi. Tugasku masih belum selesai dan-”
“Jangan gunakan sepedamu.” Mi Joo terlihat gugup, seolah-olah baru saja melakukan suatu kesalahan.
“Kenapa? Lalu aku harus naik apa?”
“Aku… aku berbuat kesalahan.”
“Ne?”
“Aku tidak bisa berpikir jernih tadi. Aku terlalu cemburu dan karena aku tidak mampu meluapkannya pada Ji Soo.”
Jin Ho berdiri karena merasa apa yang dikatakan Mi Joo serius. Dan ia tidak bisa mengabaikan kata cemburu yang digunakan gadis itu.
“Cemburu apa? Kau bicara apa?”
“Aku cemburu melihatmu membonceng Ji Soo. Aku juga ingin.”
“Lee Mi Joo..”
“Jangan gunakan sepedamu. Kau cukup menuntunnya. Atau kalau tidak biar aku yang melakukannya.”
“Apa yang kau lakukan pada sepedaku?”
Mi Joo memandang Jin Ho takut. Ia sadar kalau ia begitu bodoh tadi. 
“Aku… memotong kabel rem sepedamu.”
Jin Ho tercengang. Tubuhnya mendadak oleng, untung ia segera berpegangan pada ujung meja di belakangnya.
“Maafkan aku.”
Tanpa menjawab permintaan maaf Mi Joo, Jin Ho berlari keluar. Mi Joo mengejarnya.
“Kau mau kemana?” tangan Jin Ho dingin, itulah yang dirasakan Mi Joo saat memegangnya.
“Ji Soo… Ji Soo… Di-dia memakai sepedaku.” 
Deg
Seolah mendapatkan vonis mati, Mi Joo tak menyangka. Genggaman tangannya melemah dan ia tidak mampu mengejar Jin Ho lagi. Tangannya bergetar saat mengangkat sebuah panggilan masuk di ponselnya.
“Ini Lee Mi Joo? Apa kau mengenal Seo Ji Soo?”
Mi Joo berfirasat buruk sekarang. Ia menggerakkan bibirnya dengan susah payah, “I-i-iya.”
“Kami dari patroli kepolisian Gangnam. Seorang siswi bernama Seo Ji Soo baru saja mengalami kecelakaan. Ia mengalami pendarahan hebat dan meninggal di tempat.”
FIN

Sahabat itu apa?

Ai Muliya Present

Tittle: Sahabat Itu Apa?Author: Ai Muliya

Cast: Youngmin | Kwangmin | OC

Genre: Friendship

Length: Drabbel
*****
Kami selalu bertiga. 

Di awal perkenalanku dengan mereka adalah ketika mereka pindah ke kota ini. Dulu ketika turun salju–kira-kira usiaku waktu itu masih 6 atau 7 tahun–aku sering bermain sendiri di halaman sekolah sambil mengorek-orek tanah yang ditutupi salju tebal, siapa tahu aku bisa menemukan cacing untuk umpan ayah memancing. Lalu tiba-tiba saja mereka berdua datang ikut berjongkok di hadapanku lalu mengorek tanah tanpa tahu apa yang sedang aku cari. 

Mereka mempunyai wajah yang sama. Model rambut mereka sama. Pakaian yang mereka kenakan juga sama. Aku tidak tahu harus memanggil mereka siapa dan siapa. Dulu mereka begitu sulit untuk dibedakan.

Aku akan ragu-ragu memanggil nama mereka. Seperti, “Kwangmin, kau Kwangmin, kan?” jika dia mengangguk sambil tersenyum lebar itu artinya aku benar. Tapi jika aku sampai salah menyebut nama mereka siap-siap saja, mereka akan ngambek dan mendiamiku selama beberapa hari.

Di antara mereka aku lebih menyukai Youngmin. Dari dulu dia yang paling dewasa di antara kami bertiga. Dia yang menjagaku dan Kwangmin. Pokoknya, dia anak yang baik. Meskipun dia lebih sering diam, berbeda dengan Kwangmin yang hyper. Kwangmin juga anak yang baik, hanya saja ia sering jahil hingga membuatku jengkel. Misalnya saja, dia sering menarik-narik rambut ekor kudaku yang sudah aku ikat tinggi-tinggi hingga berantakan. Dan di sana lah peran Youngmin keluar. Dia akan melerai kami dengan cara yang halus. Pokoknya aku suka jika Youngmin sudah menasihati Kwangmin. 

Kira-kira waktu kelas 6 SD, aku sudah lupa apa yang sudah Kwangmin lakukan padaku, yang pasti aku yang sudah jengkel setengah mati lantas menggigit tangan Kwangmin sampai berdarah, alhasil aku yang menangis karena merasa bersalah. Dan di sana lagi-lagi Youngmin bertindak sebagai penengah antara kami. Dia menenangkanku, dia bilang Kwangmin tidak apa-apa, hanya lecet sedikit, dan dan aku percaya.

Dan sekarang kami sudah beranjak dewasa, yang asalnya hanya sekumpulan anak ingusan yang polos.

Menghabiskan masa-masa remaja kami di SMA. Kami banyak bertemu dengan teman-teman baru. Sebut saja Sojung, gadis tomboy yang aku temui ketika awal-awal masuk sekolah. Aku yang terlalu pemalu hanya berdiam diri di pojok ruangan, memperhatikan mereka yang sudah berkenalan dengan orang lain. Kemudian Sojung datang, mengajakku berkenalan. Dari sana kami berteman. Dari sana juga aku berkenalan dengan Minwoo. Dia menyandang status sebagai pacar Sojung. Aku terkesan dengan sifat Minwoo yang lucu juga kekanakan. Sifatnya itu sangat bertolak belakang dengan Sojung, tapi mereka cocok satu sama lain.

Aku juga tahu beberapa teman si kembar. Misalnya Sungjae, Ricky (aku tidak tahu nama aslinya siapa, yang pasti mereka sering menyebutnya begitu), Minwoo (ini Minwoo yang lain, bukan pacar Sojung). Aku hanya kenal mereka bertiga meskipun aku tahu teman-teman si kembar ada di mana-mana, tapi menurut pengamatanku selama ini yang paling akrab dengan si kembar, ya mereka bertiga ini. Kadang aku juga ikut main bersama mereka di kafe-kafe dekat sekolah, kadang Sojung dan Minwoo juga ikut bergabung, mengobrol, hanya itu.

Dan di sini aku mempunyai rahasia, yang hanya aku yang tahu, yang sudah aku pendam dari dulu. 

Aku menyukai salah satu dari si kembar. Aku menyukai dia yang sifatnya dewasa, tentu kalian sudah bisa menebaknya. Tapi apakah dari persahabatan kemudian berubah pada rasa suka sudah biasa, ataukah itu hanya hal tabu? Aku tidak tahu. Apakah dengan munculnya rasa suka ini akan membawa keretakan pada hubungan persahabatan kami? Kalau memang iya, aku tidak mau. Apakah dengan munculnya rasa suka ini kami akan merasa canggung satu sama lain? Kalau iya, aku juga tidak mau. Aku masih ingin menjitaki kepala Kwangmin yang keras itu, atau bergelayut di lengan Youngmin, aku masih ingin bisa merangkul pundak mereka berdua (meskipun mereka jauh lebih tinggi dari pada aku, alhasil jika aku melakukannya aku pasti bergelayun di antara mereka).

Jika rasa sukaku itu akan menghancurkan hubungan persahaban yang sudah kami bangun sejak dulu, sepertinya rasa itu harus kubuang jauh-jauh. Mereka sahabat paling berhargaku di seluruh dunia. Aku menyukai mereka. Aku menyukai Youngmin yang dewasa, dia yang akan menjagaku dan Kwangmin, dia sudah menjadi sosok kakak idaman untukku. Mungkin memang aku hanya terobsesi padanya sebagai kakak. Aku juga menyukai Kwangmin yang lebih kekanakan dari Youngmin. Meskipun dia jahil, tapi dia orang yang baik.

Aku menyukai si kembar.

Dan sekarang aku sedang menjilati es krim bersama Sojung di bawah naungan parasol di tepi pantai sembari memperhatikan si kembar dan ketiga kawan mereka, plus Minwoo pacara Sojung bermain voli di bibir pantai. Kami sedang menghabiskan liburan musim panas kami bersama. 

Jika ditanya apa itu arti sahabat, aku akan menjawab, “Mereka yang selalu ada untukku, yang selalu bisa menghiburku, yang selalu membuatku nyaman, yang membuatku merasa terikat dengan mereka.” 

Aku menyukai mereka semua. 

Tanpa terkecuali. 

*****

One Year

Uti Han Present

Drabble: Junghyung B2st & Sunggyu Infinite
By UtiiHan

-One Year-

“Sudah lama ya?”

Dua namja dengan sedikit beda tinggi namun sama-sama tampan sedang saling berhadapan. Salah satu dari mereka menggendong tas ransel hitam dengan satu koper berukuran sedang berdiri di sampingnya.

“Junhyung-ah!! Aku merindukanmu!!”

Namja yang membawa ransel itu berlari dan berhambur memeluk namja bernama Junhyung. Junhyung melebarkan tangannya menyambut sang sahabat, Sunggyu. Membalas pelukan Sunggyu.

“Kau selalu mengatakan rindu padaku. Padahal setiap tahun kita selalu bertemu.”

“Hyaa!! Jadi kau tak merindukanku??” tanya Sunggyu sebal.
Junhyung hanya terkekeh.

 Namja itu lalu melengos menuju koper Sunggyu lalu membawanya pergi. Membuat Sunggyu semakin kesal melihat sahabatnya yang tak pernah berubah. Selalu saja mengerjainya dan membuatnya kesal.

“Hya!!!! Yong Junhyung!!!!!!!!”
-End-

Jeongmal Gomawo

Cha Heijoo Present

Title : JEONGMAL GOMAWO
Autor : cha heijoo (widhya dwi)
cast :
– Yong junhyung

– Jung haera
Genre : ???…

NB : 

– semua hanyalah fiktif belaka dan maaf atas keterbatasan author amatiran ini.

Happy reading….

****

Waktu menunjukkan pukul 16.20 KST jung haera berjalan santai keluar dari kamarnya.

Mengenakan setelan piyama berwarna biru langit.

Rambut panjangnya terlihat kusut.

Sesekali yeoja itu mengusap kelopak matanya.

Hari ini adalah hari minggu.Bisa di pastikan bahwa pekerjaan yeoja itu adalah tidur seharian di dalam kamar nya.

“Ahhhh jam berapa ini????” Gumam haera.

Matanya melirik ke arah televisi tepatnya ke arah jam weker kecil yg ada di atas televisi.

“Moooowwww???”

Teriak haera yang langsung berlari menuju kamar mandi.
.
.
.
Beberapa menit kemudian.
Haera sdah keluar dari kamar mandi menggenakann sebuah kemeja berwarna putih dengan motif bunga2. Di padu padankan dengan celana hot pans berwarna biru.
Rambutnya yg panjang segera dia ikat menyerupai sebuah bola tenis.

Haera dengan tergesa gesa menyambar tas kecilnya lalu berlari keluar.

“Eommaaaa aku pergi sebentar. Aku berangkat”
Teriak haera yang sudah berada di samping pintu mobil nya.

“Heii mau kmnaaa kauu????” Teriak sang eomma.
Haera hanya tersenyum kecil sambil melambaikan tangannya.
Mobil itu pun berjalan dengan kecepatan 80km / jam menuju ke Bandara qimpo Busan.
.
.
30 menit berlalu.
Setelah memarkirkan mobilnya haera berlari kecil menuju pintu kedatangan.

“Huuff huuuuu huuuuu dimana manusia itu???” Ujar haera dengan nafas tersengal sengal.
Mata nya melirik ke semua penjuru. Memastikan seseorang yang dy kenal ada di sana.

“Aissshhhhhh kmna dia ituu!!”

Keluhnya lagi.

“Aku di sini”

Jawab seseorang yang tepat ada di belakang haera.

Tanpa aba2 haera menoleh ke arah belakang.

Yeoja itu diam.

Mengamati sosok namja yang ada tepat di depan nya.

“Anyyeongg jung haera” sapa namja itu lembut.
Haera masih diam tepat nya dia masih memastikan apa benar namja di depannya adalah temannya saat sekolah di jepang dulu.
Jemari haera mulai meraba tas kecilnya. Mengeluarkan sebuah kacamata dan memakainya.

“Kauu junhyung????”

Namja itu mengangguk pasti.

“Benar kau yong junhyung???”

Ujar haera penuh tanda tanya.
Lagi lagi namja itu mengiyakan.

“Sii kaleng colla???”

“Yaaaaa hidung kerdil!!!! Aqw sudah menunggumu sekitar 1 jam dan kau masih bertele tele dengan pertanyaan bodohmu itu.” Ujar junhyung sambil berkacak pinggang.

“Ohhh mianhaee…. aku lupa kalau hari ini menjemputmu di bandara”

Haera pun berjalan meninggalkan junhyung.

“Dasarrr!!”

Junhyung mengikuti haera smbil mnyeret kopernya.Mengikuti haera menuju parkiran mobil.
Dalam perjalanan haera hanya diam. Sesekali berbicara saat junhyung memberi pertanyaan.

“Heiii jung haera knapa kau makin gendut eohh” ujar junhyung di selingi dengan tawa nya.

Ciiiiitttttt….

Haera menghentikan mobilnya mendadak.

Dia paling tidak suka orang mengatai bentuk tubuhnya.

“Yaaaa kau bisa mengendarai mobil tidak??? Ohhh kening ku” junhyung mengusap keningnya yang terbentur.

“Keluarrr dari mobil orang gendutt ini!!!!” Teriak haera.

“Andwaeeeee…. kau sudah janji mengantar ku berlibur saat datang ke Busan!!” Teriak junhyung.

“Heeiiiii kita bukan teman sedekat itu!!! Keluarrrr!!! Lagi pula kenapa kau tidak meminta teman2 yang lain untuk menemanimu hah!!!!!”

“Aku…. hmmm akuu…. lagi pulaaa…”

Tinnnnnn tinnnnn tinnnnn

Seruan klakson dari beberapa mobil yang ada di belakang mobil haera sungguh membuat telinga pengang.
Dengan terpaksa haera melajukan mobilnya. Bahkan kali ini melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.

“Yaaa haera ssi aku masih perjaka tulen. Pelan2!!” Ujar junhyung ketakutan.

Namun haera hanya diam dan konsen dengan jalan yang ada di depan matanya.
Beberapa menit kemudian.

Haera menghentikan mobilnya di tepi pantai.

“Turunlah kau bisa menginap di beberapa vila di sini” ujar haera pelan.
“Kau marah???? Aku hanya bercanda”
“Aniya… aku tidak marah. Kau benar aku memang gendut”

Haera keluar dari mobilnya dan berjalan pelan menuju bibir pantai.
Entah kenapa semilir angin pantai sore itu membuat mood nya lebih baik.

Suasana senja yang indah.

Haera duduk tepat di tepi pantai membiarkan kakinya tersapu ombak kecil.

Matanya tak berhenti menatap mentari yang mulai membenamkan wajahnya.

“Indahh sekaliiiii…..”

Junhyung tiba2 sudah ada di samping haera.

Membawa dua buah kelapa muda.

“Minumlah dan maafkan aku”

Junhyung tersenyum manja.

“Tsk senyummu mengerikan kaleng!!!”
Haera pun meminum kelapa muda yang di bawa oleh junhyung.
Senja kala itu….

Adalah senja yang menyenangkan…..

Entahlah…..

Sekalipun junhyung dan haera sibuk dengan fikirannya sendiri…

Menatap indahnya matahari terbenam….

Tanpa berkata apa pun….
.
.
.
SKIP

Satu minggu berlalu….
Haera dan junhyung adalah teman satu sekolah dulunya.Namun hanya teman yang sekedar tau nama.

Sudah 7 tahun mereka tidak saling bertemu.

Entah bagaimana mereka bisa sedekat ini sekarang.

Saling berbicara bercanda dan terkadang bertengkar kecil.

Seorang jung haera yang tertutup dan terkesan sombong di mata orang lain kini berbeda saat bersama junhyung.

Mereka hanyalah teman.

Entah teman seperti apa.
Malam ini adalah malam terakhir junhyung berlibut di busan.
Junhyung dan haera mengunjungi sebuah pasar malam.

“Aku ingin makan itu” junhyung menunjuk permen kapas

“Tsk kau ini sudah tua yong junhyung!!!” Jawab haera enteng.

Haera berjalan meninggalkan junhyung dan memilih melihat2 beberapa aksesoris yang di jual oleh pedagang.
Namun berbeda dengan junhyung dia lebih memilih mendekati makanan kesukaannya saat kecil.
Setelah memberikan beberapa won junhyung kembali di belakang haera.

“Ini untukmu hidung….”

Belum sempat junhyung menyelesaikan perkataannya dia sudah ketakutan dengan mata haera yang memelototinya.

“Mianhaee”

Haera mengepoutkan bibirnya tanpa menjawab apa pun.
Dia kembali berjlan meninggalkan junhyung.

Dan berhenti di sebuah loket untuk mengantri.

“Heiii haera ssi apa yang kau lakukan???? Aku takut naik bianglala. Sungguh” ujar junhyung.
Haera menoleh ke arah junhyung dengan lemas.

“Memangnya siapa yang mau mengajakmu naik bianglala??? Aku tau kau pecundang kaleng!!!”
Haera pun berjalan maju karena gilirannya membeli tiket telah tiba.
Setelah membayar haera pun menuju tempat di mana dia bisa menaiki bianglala raksasa itu.

“Tungguuuuuuuuuu aku” teriak junhyung.
Haera menoleh dan tersenyum kecil karena junhyung ternyata memberanikan diri untuk ikut naik bersamanya.
Akhirnya mereka pun menaiki bianglala.

Mereka duduk berhadapan tanpa sepatah kata pun.
Junhyung sibuk berpegangan karena dia takut ketinggian.

Namun dia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Kilauan lampu yang berkelap kelip terlihat begiti cantik saat di lihat dari kejauhan.
Sedangkan haera sibuk dengan berbincang dengan hatinya….
Haera pov
Entahlah….

Kita bahkan bukan teman yang sedekat itu…

Bahkan aku tidak tau apa posisi ku….

Yang aku tau…

Aku bersikap baik sesuai apa yang kau lakukan pada ku….

Kau baik….

Namja yang sangat baik….

Aku…

Aku tidak tau tepatnya apa yang aku rasakan sekarang…

Hanya….

Aku merasa bahagia…..

Sungguh sungguh bahagia yong junhyung…..

Aku pernah datang ke tempat ini bersama orang yang berbeda….

Bertahun tahun yang lalu….

Aku kira bayangan menyakitkan kala itu akan tiba2 terlintas….

Namun ternyata tidak….

Aku sudah baik baik saja…

Dan aku bahagia datang kemari….
Jeongmal gomawo yong junhyung…..

END

Butterfly

Setia Present

Butterfly

Main Cast : Yong Junhyung X Ahn Na Mi

Genre : Sad, Friendship

Length : Songfic [BEAST-BUTTERFLY]
Bukan salahmu kau tersendat dalam anginAkulah yang tak bisa menahanmu, jadi jangan menyesalAku bukan siapa-siapa tapi kau datang padaku dan berbagi kehangatanmu untukkuSemua kehangatan itu telah pergi tapi aku masih bersyukur atas dirimu

==

Lagi, kali ini lelaki itu menyeka linangannya. Betis jenjang yang ia gunakan sebagaipenyanggah tubuhnya kini gugur sudah. Ia terisak didepan sebuah lemari kaca yang berisikan sebuah guci.Tertulis ‘Ahn Na Mi’ diguci tersebut. Ya, ia diruang kremasi.

“Maafkan, aku.. harusnya aku sadar kau adalah sahabatku yang mengerti diriku” lelaki itu berucap ditengah isakannya.Jangan salahkan takdir yang membuat lelaki ini kehilangan sahabat satu-satunya.Siapa suruh ia acuhkan sahabatnya. Lelaki ini terlalu dingin, sejak kematian kedua orang tuanya. Sekarang, yang ia dapatkan hanya sebuah penyesalan yang berakhir dengan sebuah tangisan.

==

Ku berharap bahwa hal itu tidak memakan waktu yang lama, sehingga aku bisa melihatmu tidak peduli seberapa jauh dirimu pergiItulah satu-satunya hal yang aku butuhkan, kau bisa terbang dengan indah

My Butterfly

 My Butterfly 

My Butterfly
Ku berharap bahwa hal itu tidak memakan banyak waktu

==

[Flashback]

“Jun, apa kau menyukai kupu-kupu ?” 

Tanya gadis itu dengan nada lembut. Namun, lelaki yang bernama lengkap Yong Junhyung tersebut hanya diam. Tidak menjawab. Tidak berkata sepatah kata pun.Lelaki itu hanya diam mematung. Telinganya tuli seketika. Pandangannya masih lurus kedepan, menatap hamparan bunga Canola yang berada dihadapannya. Sesekali, angin menyibakkan beberapa helai anak rambutnya. Menambah kesan dingin pada wajahnya semakin menjadi.

“Tidak, kupu-kupu terlalu rapuh” ucap Junhyung. 

Gadis itu menatap Junhyung yang akhirnya membuka suaranya. Setidaknya berbicara beberapa bait pun gadis ini sudah senang. Dari pada mereka hanya diam duduk ditaman bunga Canola yang indah.

“Kalau, kau menyukai kupu-kupu berarti kau rapuh” tambah Junhyung.

 Sejenak Nami -gadis itu- terdiam atas perkataan Junhyung. Ia menahan beningan yang ingin mengucur dipipi mulusnya.

“Suatu saat aku akan menjadi kupu-kupu untukmu, Jun” bisik Nami yang sama sekali tidak terdengar oleh Junhyung.

[Off]

==

Jangan khawatirkan aku, aku baru saja kembali dari keadaanku

Duniaku gelap sebelum kau datang padakuJika ada sesuatu yang tidak bisa kubuat dan kulakukan

Aku merasa bersalah pada bibirku yang terus memanggil namamu.

==

[Flashback]

“Jun, jika aku pergi jauh suatu saat nanti. Berjanjilah untuk menjaga dirimu dengan baik, ya” Junhyung hanya mengangguk tanpa bertanya apa yang dimaksud oleh Nami. 

Keduanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Tidak peduli dengan ekspresi yang diberikan Junhyung, Nami tetap tersenyum tulus pada Junhyung.

[Off]

“Ahn Nami, Nami-Yaa” isaknya lagi.

Percuma ! Percuma saja Jun ! Kau tidak bisa berbuat apapun. Ini sudah takdirnya. Mau seribu kali kau menyebut namanya kau tidak akan bisa membangkitkan orang yang sudah meninggal, bukan ? Kau yang bodoh, terlalu mengacuhkan Nami. Gadis itu mencoba membuatmu tersenyum dalam keterpurukanmu. Kau tidak pernah sadar. Ia tahu dirimu melebihimu.

==

Aku terus mengatakan terhadap diriku sendiri sungguh aku baik-baik saja, dan menjaga hatiku dari kehancuranBahwa aku lemah karena aku tidak bisa menyingkirkan apapunAku tidak bisa mengatakan hal sesederhana 

“Kumohon kembalilah padaku, jangan tinggalkan aku”

Karena kau begitu indah saat kau mengepakkan sayapmu seperti kau meninggalkanku

==

“Harusnya aku tau.. harusnya aku tau kau sakit melebihi ku.. harusnya kau mengatakannya Nami.. kenapa kau menyembunyikan semuanya.. seharusnya kau cerita”

Junhyung mengacak surainya frustasi. Pikirannya kalut sekarang. Ia membenci dirinya sendiri sekarang. Ia benci ketika satu-satunya sahabat yang selalu disampingnya pergi begitu saja. Tanpa kabar apapun. Namun, seminggu tanpa kabar. Seperti terhempas dari langit ke bumi. 

Kabar yang ia benci dalam hidupnya ‘Kematian sang sahabatnya’ akibat penyakit Jantung yang dideritanya sudah tidakdapat tertolongkan lagi.Junhyung tidak tau menahu tentang penyakit sahabatnya. Bahkan, ia tidak peduli dulu apapun itu tentang Nami. 

Yang ia tahu, gadis itu selalu menghiburnya selalu tersenyum didepannya dengan senyuman yang tulus.Junhyung mengeluarkan sebuah kalung berliontinkan kupu-kupu kecil bersayap biru.

“Harusnya aku tau kenapa kau menyukai kupu-kupu. Selain karena ia cantik, ia juga rapuh. Bodohnya aku, mengatakan ‘Rapuh’ dihadapanmu, dulu. Maafkan aku Nami”…

[Flashback]

“Jun, ini untukmu” Nami memberikan Junhyung sebuah kalung berliontinkan kupu-kupu.

“Untuk apa ?” Tanya Junhyung keheranan. Ia menatap kalung yang Nami berikan. Kedua alisnya bertautan.

Sejenak Nami menarik nafasnya panjang. Sangat sesak mengatakannya.
Sejenak Nami menarik nafasnya panjang. Sangat sesak mengatakannya.

“Agar kau bisa mengingatku, kapanpun, saat aku tak ada didekatmu lagi. Saat aku tak bisa menemanimu lagi suatu saat nanti, Jun”

Junhyung mengangguk mengerti.Entah sudah berapa lama Nami memeluk Junhyung yang diam mematung.

“Aku menyayangimu, Jun, sahabatku. Tersenyumlah, jangan terlalu dingin, hm” ditengah ucapannya linangan air mata menetes disudut-sudutnya. Seakan tak ingin diketahui, Nami menghapus air matanya dengan cepat.

“Aku juga menyayangimu, Nami, sahabatku”

Junhyung membalas pelukan Nami. Ia tidak tau, itu adalah pelukan mereka untuk terakhir kalinya.

[Off]

“Aku, akan mengingat semuanya, Ahn Na Mi” lirih Junhyung.

 Kini lelaki itu meninggalkan ruangan kremasi tersebut.Kini, Junhyung berada di taman bunga Canola. Ia duduk disalah satu bangkunya. Tatapan dinginnya kini menjadi kala lelaki itu merasakan hembusan angin yang menerpa halus wajah tirusnya.Sebuah kupu-kupu cantik terhenti di hadapan Junhyung. Kupu-kupu dengan sayap birunya.

“Nami-ya.. kau kah itu ? jangan khawatir, aku akan hidup dengan baik, eoh” lirihnya diselingi sebuah senyuman yang menyakitkan hati bagi siapa saja yang melihat.

“Kau kupu-kupu yang cantik, Nami” ucapnya lagi pada kupu-kupu didepannya. Kini kupu-kupu itu pergi, seketika air mata Junhyung keluar kembali.

“Jadilah kupu-kupu yang cantik dan kuat, Nami. Sahabatku”
[END]

Song For You

Septi T. Present

Tittle : Song For You

Author : Septi Titanika

Cast : Wu Yifan | Kim Jongin | Kim Eun Ha

Genre : Romance, Friendship

Rated : PG 13

**

“Kim Jongin-ssi,” Kim Eun Ha melambaikan tangan dari balik tirai hitam yang menggantung di belakang panggung. Memberi isyarat, kemarilah.

Jongin menunjuk dadanya, aku? Pertunjukan baru saja selesai dan suasana di belakang panggung sangat ribut. Dia tidak bisa mendengar suara Eun Ha dengan jelas.

“Pertunjukkanmu bagus,” Eun Ha mengangkat dua jempolnya ketika mereka sudah berdiri berhadapan. Di luar gedung dengan tangan masing-masing membawa cup kopi.

“Kau menonton rupanya,” Jongin tersipu. 

“Aku agak gugup tadi, itu tidak bagus. Biasa saja,” kilahnya. “Terimakasih kau sudah datang dan menonton pertunjukkan tahunan kami.

” Jongin bersekolah di sekolah musik. Yang baru saja dilakukannya adalah salah satu agenda besar sekolah. Memperlihatkan bakatnya bermain saxophone yang sukses menunjukkan tepuk tangan meriah. Pertunjukkan rutin di bulan Juli untuk menunjukkan cemerlangnya bakat mereka semua. Dan untuk mengukuhkan nama sebagai sekolah musik terbaik di Korea.

Eun Ha menepuk bahu Jongin keras, “Aku hanya melihat bagian bagusnya saja rupanya. Aku datang saat kau sudah bermain setengah lagu.” 

“Kalau aku berulang tahun nanti…” Eun Ha meneguk sisa kopinya. “Maukah kau bermain untukku? Aku suka sekali saxophone,” gadis berambut sebahu itu membuat gerakan memainkan saxophone dengan jarinya. 

Jongin tersenyum, dia tidak akan bisa menolak permintaan Eun Ha. Mungkin melompat ke sungai Han di musim dingin sekalipun. Demi Eun Ha. Asal Eun Ha bahagia. Demi cintanya pada Eun Ha.
Sulit mengatakannya memang. Jongin tidak tahu kapan perasaan itu dimulai. Namun dia yakin Eun Ha lah satu-satunya di hatinya. Tidak tahu sampai kapan dia bisa menyimpannya. Dia belum memiliki keberanian untuk menyampaikannya pada yang bersangkutan, takut gadis itu akan terkejut dan menjauhinya.

“Aku menyesal tidak belajar dengan keras dulu,” Eun Ha menghembuskan napas
“Aku menyesal tidak belajar dengan keras dulu,” Eun Ha menghembuskan napas kesal. Kalau dia menuruti permintaan Eun Jung untuk belajar musik sejak awal dia pasti bisa diterima di sekolah yang sama dengan Jongin. Sekarang dia sekolah di SMA swasta.

“Oh, bagaimana Eun Jung?”
“Jongin-ah,” Oh Sehun melambaikan tangan dari arah belakang. Membuat obrolan Jongin dan Eun Ha terputus. 

“Yifan bilang akan pulang larut, jadi dia menyuruhmu pulang duluan,” Sehun menepuk bahu Jongin namun matanya melirik Eun Ha. Jongin meninju lengannya pelan. Memberi isyarat, jangan macam-macam.

“Selamat malam, selamat berlibur,” kata Sehun sambil berlari. “Selamat bersenang-senang.”
Jongin mendengus. Dasar bocah itu. Eun Ha memperhatikan tas gitar besar di punggung Sehun dengan senyum mengembang.

“Dia magnae kalian?” Jongin pernah bercerita tentang Sehun dan gitarnya.
“Mungkin kami kena kutukan,” Jongin terkekeh. “Eun Jung bagai…”
“Jongin-ah, aku duluan. Selamat berlibur, selamat bersenang-senang,” kali ini Park Chanyeol dengan sepedanya. Dia mengerling sambil menekankan pada kata bersenang-senang. “Hati-hatilah dengan dia Nona.”
“Kau juga, Park.” Jongin membalas deringan bel sepeda Chanyeol dengan tangannya.

“Eun Jung belum membaik,” keceriaan Eun Ha lenyap. 

“Dia baru akan membaik kalau sudah dioperasi,” Eun Jung, adiknya, menderita kelainan jantung dan sudah dua minggu ini opname.
Jongin menyesap kopi terakhirnya,

 “Semoga Eun Jung cepat sembuh.” Dia juga tahu Eun Jung belum dioperasi karena biayanya belum cukup. Ibu Eun Ha adalah ibu tunggal dan tambahan uang dari Eun Ha dari gajinya bekerja paruh waktu juga tidak seberapa.

“Oh ya, aku merekam aksimu tadi, daebak.” Eun Ha menggoyangkan ponselnya. 

“Kau bisa main piano juga kan? Kalau ada waktu luang bagaimana kalau mengajari aku?”
“Ah, piano itu, bukan keahlianku. Aku akan mengenalkanmu pada Yifan agar dia mengajarimu.”
“Yifan?”

“Hem, dia teman dan sepupu jauhku. Kau mau kopi lagi? Ayo kutraktir.” Jongin menunjuk kedai kopi yang tampak ramai dan mereka menyeberang jalan.

**

“Jadi nilai Yifan lebih tinggi darimu?” tanya Ibu Jongin sambil menuang susu ke gelas mereka masing-masing. 
“Itu karena dia tampan saja,” sembur Jongin dengan mulut penuh nasi. “Guru perempuan memang suka pilih kasih. Hei, hei, berhenti minum susu. Kau mau setinggi apa?”
Yifan meletakkan gelasnya yang tinggal terisi separuh. “Aku belajar giat, Bibi. Dia hanya iri saja.”

Ibu Jongin hanya menanggapi dengan senyum. Sudah terbiasa. Putranya dan Yifan sudah bersahabat sejak SMP. Sejak Yifan dititipkan ibunya pada mereka untuk sekolah di Korea.

“Aku sudah selesai, ” Yifan tersenyum puas.
“Kau yang cuci piring,” Ibu memberikan sarung tangan karet untuk Jongin. Sesuai perjanjian awal jika nilai Yifan yang lebih tinggi. Jongin akan mencuci piring. Seminggu.

Jongin tidak bisa berbuat apa-apa. Yifan terus meledeknya sepanjang dia bekerja. Mau tidak mau dia mencipratkan air kran kemana-mana. Yifan membalasnya dengan melemparinya dengan sayuran yang ada di atas meja.
Cuci piring itu berlanjut dengan mengotori dapur dan dimarahi ibu.

**

Jongin melebarkan matanya lalu melihat jam di dinding. Setengah dua belas dan dia mendengar dentingan piano. Dia keluar kamar dan melongok melalui pintu kamar Yifan yang terbuka. Kosong namun gitar dan kertas-kertas partitur berserakan di lantai dan tempat tidur. Ini yang tidak dia miliki dari Yifan. Semangat belajar yang menggebu-gebu. Sahabatnya itu sering belajar hingga larut sekalipun hari libur. Ada untungnya juga dia memiliki insomnia.

Jongin menyeret sandalnya ke dekat piano lalu bersandar berdiri pada rak buku. Menunggu Yifan menyelesaikan lagunya.
Tapi tunggu.
Alis Jongin nyaris bertaut, nada itu asing. Belum pernah didengarnya. Dia mendengarkannya baik-baik hingga jari-jari Yifan berhenti bergerak. Hingga lagu asing itu berhenti dan yang menggantikannya adalah suara helaan napas lega Yifan, detak jam dan suara ketukan kukunya di dagu.

“Bagaimana menurutmu?” Yifan tersenyum lebar.
“Lagu baru lagi?” Keunggulan Yifan yang lain, dia pandai mengarangsemen lagu.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Yifan lagi. Sudah tidak sabar menunggu komentar Jongin.

 “Kau orang pertama yang mendengarkannya.” Sebetulnya bukan Jongin orang yang ingin dia perdengarkan lagu itu, tapi mau bagaimana lagi.
Jongin terdiam, kemudian dia tertawa dan memeluk Yifan. Di lehernya hingga sahabatnya itu kesulitan bernapas.

“Hei, Kim Jongin lepaskan!” Yifan meronta.
“Kau hebat, luar biasa, lagunya indah sekali.”
“Katakan yang benar.”
“Memang, itu benar kau yang menciptakannnya?” Jongin memandang Yifan tidak percaya. Walaupun dia tidak pernah meragukan kemampunnya.

“Syukurlah kalau lagunya bisa diterima,” Yifan meraba tuts hitam putihnya.

 “Semoga dia menyukainya.” Dan dalam sekali gerakan dia sudah ada di belakang Jongin, menjepit lehernya. Balas dendam.
“Dia siapa?” Jongin berhenti tertawa.
Yifan melepaskan tangannya lalu memberesi kertas-kertasnya. Dia keceplosan.
“Memangnya barusan aku bicara apa?”
“Biar kutebak, lagu ini tercipta karena wanita yang kau sukai?” Jongin mengejar Yifan

“Biar kutebak, lagu ini tercipta karena wanita yang kau sukai?” Jongin mengejar Yifan ke dalam kamar. 

“Hei, kau suka pada wanita juga ternyata,” gurau Jongin karena selama ini Yifan hanya menghabiskan hari dengan berkutat pada nada dan alat musik.

“Siapa wanita tidak beruntung itu? Hei, Wu Yifan jangan tidur dulu. Jawab pertanyaanku.” Jongin menarik selimut Yifan. “Siapa wanita yang kau sukai? Beritahu aku.”

“Tidurlah, ini sudah malam.”

Jongin melompat ke atas tempat tidur, memaksa meminta jawaban. Namun yang didapatkannya hanyalah cengiran lebar. 
Jika Yifan sampai membuatkannya lagu, dia pasti gadis yang istimewa. 
Yifan belum akan memeberitahu Jongin. Karena gadis itupun belum tahu. Dia hanya sering melihat gadis itu di taman dekat sungai Han. Dia fotografer amatir yang suka memotret turis demi mendapatkan beberapa lembar won. Dia membuatnya jatuh cinta hanya dengan beberapa kali melihatnya. Lagu itu untuknya.

Untuknya yang mungkin tidak sadar bahwa Wu Yifan pernah menjadi salah satu orang yang meminta foto padanya. Untuk gadis cantiknya.

“Nanti akan kukenalkan dia padamu, tapi turun dari ranjangku,” kata Yifan dengan nada mengancam. 

Jongin menurut dan pindah ke kamarnya. Haruskah dia memberi tahu Yifan bahwa dia sedang jatuh cinta juga?

**

Jongin melambaikan tangan pada Eun Ha yang menunggunya di seberang jalan. Gadis itu menyeberang dan menerima sebotol air mineral yang dia ulurkan. Musim panas kali ini cuacanya luar biasa. Global warming.

“Ada apa?” tanya Jongin sambil memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah. Masih memakai seragam kafe tempatnya bekerja. Eun Ha mengirim SMS minta bertemu.

“Aduh bagaimana ya mengatakannya…” Eun Ha ragu untuk bercerita.
Jongin tersenyum masam. Gadis ini pasti butuh uang lagi. Kim Eun Ha sudah beberapa kali meminjam uang padanya. Dia berikan tabungannya dan yang terakhir dia minta pada ibunya. Minta uang untuk membayar kursus. Maaf eomma, dia sudah berbohong.

“Kau butuh uang lagi?”
“Kami belum membayar sewa rumah dan obat Eun Jung…”
Jongin mengeluarkan uang dari dompetnya. 

“Kau pakai saja.”
“Tapi aku tidak bisa mengembalikannya dengan cepat.”
Jongin meletakkan tangannya di puncak kepala Eun Ha. 

“Tidak apa-apa, kalau kau butuh bantuan, bilang saja padaku. Arraseo ? ”
“Gomawo Jongin-ah.”

**

“Hei, kenapa kau diam saja? Masih marah pada Bibi?” Yifan menduduki tempat kosong di samping Jongin. Duduk dari menghadap ke timur dan Jongin menghadap ke barat. Dibatasi oleh handuk kecil dan setengah botol air mineral yang segera berpindah ke perut dan kepala Yifan.

“Bibi benar, kau menghabiskan banyak uang akhir-akhir ini. Wajar Bibi marah,” kata Yifan sambil melempar botol kosongnya dengan gaya melempar bola basket ke ring.

Jongin menendang bola basketnya hingga kembali ke tengah lapangan. Ibunya marah karena tahu saldo tabungannya telah kosong. Dan juga tahu bahwa dia tidak mengikuti kursus apapun. Ibu mengintrogasinya habis habisan namun dia belum bisa mengaku.

“Tabunganmu kan cukup banyak dan aku tidak melihatmu membeli sesuatu yang mahal. Uangmu kau gunakan untuk apa?” Yifan menepuk bahu Jongin. Lapangan basket itu sudah sepi karena malam telah separuh datang. Jongin tiba-tiba saja mengajaknya bertanding. Dan dia kalah, tidak ada satupun lemparannya yang masuk ring. Dia sedang tidak konsentrasi.

“Kau tidak perlu tahu,” Jongin berdiri, ingin pergi.

“Kalau ada masalah cerita padaku. Kita kan teman.” Yifan punya firasat Jongin melakukan hal yang salah.

“Ini masalahku Wu Yifan. Kau tidak perlu ikut campur,” suara Jongin naik. Setengah membentak. Saat marah tadi, ibunya juga membandingkannya dengan Yifan. Yifan yang mandiri, Yifan yang pintar, rajin…

Jongin berlari pergi. Tidak peduli pada Yifan yang kerepotan mengejarnya sambil membawa ransel mereka.

**

“Mau ke mana?” Jongin keheranan ketika dia dan Yifan turun dari kereta bawah tanah. Yifan yang mengajaknya pergi, memaksanya. Yifan hanya menjawab dengan isyarat ‘ikut saja’. Mereka keluar dari stasiun bawah tanah dansaat Jongin menengok ke papan penunjuk jalan dia menemukan kata Hongdae. 

“Kau ingin bersenang-senang?” Jongin kewalahan mengikuti langkah panjang Yifan menembus kerumunan pejalan kaki. Dia berjalan cepat walaupun menggendong tas gitarnya yang tampak berat.

“Bisa dibilang begitu,” jawab Yifan pendek sambil meletakkan tangannya di bahu Jongin. Jongin langsung melepaskannya, geli tahu. Takut pamornya akan jatuh kalau dilihat orang.
Ternyata yang dimaksud Yifan adalah bertemu teman-temannya. Para musisi jalanan atau busker. Jongin tidak tahu bahwa Yifan kenal mereka.

“Uang yang sering kugunakan untuk mentraktirmu kau pikir darimana?” ujar Yifan sambil membuka tas gitarnya. “Kau sedang butuh uang banyak kan? Nah, ayo cari uang,” dia menunjuk orang-orang yang mulai berhenti berjalan.

Mereka berdua melakukan high five. Sepuluh menit kemudian di tempat itu telah terjadi kerumunan. Orang-orang berhenti untuk menyaksikan aksi anak-anak muda yang memang sering beraksi di Hongdae itu. Yifan menyanyi dan bermain gitar. Sedang Jongin memainkan saxophone. Mereka mendapat tepuk tangan meriah. Dan tambahan uang yang lumayan.

Di tengah-tengah lagu Yifan memandangi deretan penonton. Gadis itu tidak ada di sini. Andai dia ada di sini, dia pasti memotretnya.
Hei, gadisku, lagu ini masih kusimpan untukmu…

**

“Kau yang bermain di Hongdae tadi kan?” Jongin menoleh ketika kursi kosong di sampingnya diisi oleh seorang laki-laki berwajah tirus. 
“Perkenalkan, namaku Han Jae Woo. Aku tadi melihat pertunjukkanmu di Hongdae dan itu luar biasa.”
“Terimakasih.” Jongin berdecak. Pulang sendiri malah diajak mengobrol orang tidak dikenal. Yifan harus mampir ke suatu tempat jadi dia naik kereta lain. Sial.
“Datanglah ke kantor kami kalau kau ingin bergabung,” pria itu menyodorkan kartu nama.

 “Agensi kami membutuhkan bakat hebat sepertimu.”

Jongin menerima kartu nama itu walau dengan wajah datar. Dia tidak ingin jadi artis atau bergabung dengan agensi manapun. Mungkin Yifan akan tertarik.

**

“Gomawo Jongin-ah.” Eun Ha memandangi uang di tangannya dengan mata berbinar. Semua uang yang Jongin dapatkan di Hongdae diberikan padanya.
“Bagaimana aku harus berterimakasih padamu?”
Jongin ingin menjawab, jadilah pacarku, namun urung. Bukan saat yang tepat.
“Mau kutraktir patbingsu ? Cuacanya sangat panas, es kacang merah pasti enak.”
Mereka berdua akhirnya menikmati patbingsu dengan tidak henti-hentinya tertawa. Seperti kencan yang manis. 

“Jongin-ah kau tunggulah di sini, aku mau ke toilet dulu.”
Jongin mengangguk karena mulutnya penuh. Dia mengepalkan tangan ‘yes’ setelah Eun Ha menghilang. Musim panas yang menyenangkan.
Perasaan Jongin berbalik 180 derajat dengan Eun Ha. Dia membasuh wajah dan menatap pantulannya di cermin. Satu tangannya ada di saku, mencengkeram gulungan uangnya.

Uang yang bisa dia gunakan untuk membeli apapun yang dia mau. Dia sudah lelah terus-terusan mencari uang untuk Eun Jung. Dia juga ingin membeli ini itu. Dia juga punya banyak kebutuhan. Ibu juga hanya mencari uang untuk Eun Jung. Dia sudah bosan. Sebosan-bosannya.

“Kau baik-baik saja?” Jongin melihat wajah Eun Ha lebih pucat.

“Aku tidak apa-apa kok. Oh ponselku, sebentar, yeoboseo…”
Lima menit kemudian mereka sudah berada di bus yang menuju ke rumah sakit. Keadaan Eun Jung memburuk dan harus segera dioperasi.

“Bukankah aku menyuruh membeli obat Eun Jung tepat waktu, kenapa bisa terlambat, hah?” Ibu memarahi Eun Ha.

“Eomma, aku…” itu karena dia gunakan uangnya untuk membeli seragam dan tas baru dulu.

“Kalau sudah begini bagaimana?” Ibu Eun Ha tampak panik.

“Bibi sudah, jangan marahi Eun Ha,” mereka ada di lorong rumah sakit. Banyak yang melihat.
Setelah ibu Eun Ha pergi, Jongin mengajaknya duduk lalu menggenggam tangannya. Membisikkan kata untuk menenangkannya. Ada aku, tenanglah, semua akan baik-baik saja.

**

Jongin menatap langit-langit kamarnya. Mendadak dia tidak merasa bosan dengan warna putih yang monoton itu. Dia berguling, setengah menit kemudian kembali miring dan telentang.

Langit-langit polos itu tiba-tiba menampilkan wajah Eun Ha lengkap dengan senyumnya. Di telinganya terdengar kembali percakapan mereka dengan dokter. Hal yang membuatnya gundah gulana berhari-hari hingga menolak ajakan Yifan berlibur ke pantai Busan.

Eun Jung harus dioperasi dan biayanya sangat banyak, uang kami belum cukup. Kata Eun Ha sambil menangis.
Sekalipun dia menyanyi siang malam di Hongdae juga belum tentu akan mendapatkan uang sebanyak itu. Dia bangkit, mencengkeram rambutnya yang mulai berminyak dan keluar kamar.
Jongin memandangi pintu kamar Yifan yang tertutup namun tidak terkunci. Ragu untuk masuk. 
Setan di kepalanya lebih mendominasi. Dia memandangi kamar Yifan yang rapi. Gitarnya ada di tempat tidur. Kertas-kertas partitur dijepit rapi di atas meja. Koleksi buku dan kaset-kasetnya nya juga tertata rapi Dia membuka lemarinya, ada biolanya, gitarnya yang lain, stik drum, bahkan harmonika pemberiannya ketika pertama kali Yifan datang ke Korea juga masih dia simpan dengan baik. 
Laptop Yifan ada di atas meja, berdekatan dengan USBnya. Jongin mengambil USB itu dan menggenggamnya.
Hati nuraninya mengatakan, jangan sentuh benda itu. Jangan berani-berani menyentuhnya.
Namun suara isakan Eun Ha kembali mendominasi pikirannya. Gadis itu butuh uang banyak. Gadis yang dia sukai butuh banyak uang. Dia tidak suka melihat gadisnya sedih.
Jongin berbalik ke arah pintu, berhenti di bawah bingkainya. Tangannya terkepal hingga memutih. Dia menarik napas panjang, menenangkan dua sisi di hatinya yang sibuk berdebat.
Persetan dengan Yifan. Persetan dengan persaudaraan dan persahabatannya dengan Wu Yifan. Dia melesat kembali ke dalam kamar, menghidupkan laptop Yifan dan mencolokkan USBnya ke sana. Memeriksa file-filenya dan dia menemukannya. Lagu-lagu yang diciptakan oleh Yifan.

Jongin mencarinya. Lagu itu. Lagu indah yang diciptakan Yifan. Dia butuh lagu itu.
Jongin membawa USB itu ke kamarnya dan menyalinnya di laptopnya. Song For You.
Dengan tangan gemetar dia membuka laci meja, mengambil kartu nama lalu menelepon.
“Tuan Han Jae Woo, ini aku Kim Jongin…”

**

“Kau kenapa diam saja sih?” tanya Yifan di sela napasnya yang terengah. Jalanan menanjak, membawa dua plastik berisi belanjaan di kanan kiri dan cuaca sangat panas. Mereka ikut ibu Jongin berbelanja dan karena Ibu ada urusan di tempat lain, maka mereka yang harus membawa pulang belanjaannya. Beberapa hari ini Jongin mendadak seperti orang linglung.

“Bicaralah Kim Jongin,” Yifan meletakkan tasnya di pinggir jalan. Kelelahan. “Apa soal uang lagi? Apa masih kurang?”

“Aku hanya tidak enak badan saja,” jawab Jongin acuh. “Tidak usah sok tahu.”
“Kita bisa mencari lagi kalau kurang.” Walaupun Yifan juga tidak tahu uang sebanyak itu untuk apa.
“Tidak usah ikut campur urusanku.”
“Apa kau melakukan hal yang salah?”
“Kubilang jangan ikut campur!” Emosi Jongin mulai meninggi. Hingga dia tidak sadar jalanan mulai menurun lagi dan dia berjalan agak ke tengah. Bersamaan dengan sebuah sepeda motor yang melaju tidak terkendali.
Braakkk.

Yifan mengumpat ketika sikunya menggores aspal. Dengan Jongin di bawahnya. Kalau dia terlambat sepersekian detik saja mungkin Jongin sudah tertabrak. Jongin merintih, kepalanya membentur aspal.

“Kau sadar hampir tertabrak, hah?” kali ini Yifan yang membentak. Setelah puas meneriaki motor yang tidak berhenti itu.
Jongin meringis menahan sakit.
“Kalau aku tidak ikut campur kau mungkin sudah mati!” Beberapa orang mulai keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. “Mulai sekarang urusi saja urusanmu sendiri!” Dan dia ngeloyor pergi dengan terpincang-pincang. Meninggalkan Jongin dan belajaannya di tengah jalan.
Jongin menggigit bibir bawahnya. Dia tidak mungkin mengatakan pada Yifan bahwa dia telah menjual lagu yang diciptakannya dengan susah payah. Menukarnya dengan uang untuk operasi Eun Jung.

**

“Bagaimana kau tidak tertarik padanya?” Chanyeol merangkul bahu Yifan. “Yoon Ji sangat cantik, lihat itu, lihat…” si tiang listrik itu menunjuk gadis yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Mereka sedang mengantri untuk nonton film di bioskop di dekat stasiun Yongsan.
“Dia bukan tipeku,” jawab Yifan pendek. Tipenya adalah si fotografer sungai Han.
“Lalu yang seperti apa?” Oh Sehun muncul di tengah mereka dengan tiba-tiba. Seperti hantu. Membagikan bubble tea. 

“Seperti itu?” dia menunjuk Jongin yang sedang mengobrol dengan Junmyun.
“Kau pikir aku apa?” Yifan mulai sebal.

“Habis kau kemana mana selalu bersama Jongin. Seperti kembar saja,” ledek Sehun. Tepat saat itu Jongin menatap ke arah mereka. Walaupun berada di tempat yang sama namun tadi mereka pergi sendiri-sendiri. Jongin dengan Junmyun dan Yifan pergi bersama Sehun dan Yixing. Tanpa saling bertegur sapa.

“Aku bukan gay.”

“Oh ya ampun Yifan Oppa kau sangat tampan, lihat-lihat itu Shin Ae,” Chanyeol menunjuk Shin Ae yang berjalan cepat-cepat. Takut Chanyeol akan meledeknya lagi. Shin Ae si penggemar nomor satu Wu Yifan.
“Menjijikkan,” Yifan menoyor rambut keriting Chanyeol. Sempat melirik Jongin yang segera membuang pandangan ke arah pintu masuk bioskop.
“Ayo masuk, filmnya hampir mulai.”
Saat mereka berjalan, Sehun tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya dan Yifan yang berjalan di belakang membungkuk, berinisiatif mengambilkannya.
“Hati-hatilah dengan ponselmu,” Chanyeol yang menerimanya, mengulurkannya ke Sehun.

Yifan baru akan melangkah lagi ketika telinganya menangkap barisan nada diantara keramaian gedung bioskop itu. Nada yang tidak asing. Nada yang dia kenal. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu dua kali lebih cepat. Dia berbalik, matanya menelusuri asal suara itu. Dan dia melihatnya. Di televisi besar di depan area bioskop. Lagu itu dinyanyikan oleh seorang solois pria di sebuah panggung comeback.
Tubuh Yifan menjadi tegang. Dia tahu kelanjutan lagu itu lebih dari siapapun, liriknya, nadanya.

Tubuh Yifan menjadi tegang. Dia tahu kelanjutan lagu itu lebih dari siapapun, liriknya, nadanya. Tebakannya akan lagu itu benar hingga selesai dinyanyikan dan penyanyi itu mendapat tepuk tangan meriah. Dan mungkin juga memborong trophy pada comebacknya kali ini.

“Hyung, kau kenapa?” Sehun menepuk punggungnya karena Yifan tidak segera masuk. Namun Yifan diam karena dia tidak lagi mendengar suara apapun selain suara televisi. Nyanyian itu seakan menutup semua simpul pendengarannya.
Itu lagu miliknya. Lagu yang dia ciptakan untuk gadis yang dia cintai. Yang dia ciptakan dengan merelakan waktu tidurnya. Dengan kemampuan terbaiknya. Bagaimana bisa lagu itu dinyanyikan orang lain? Bagaimana bisa tahu? 
Jongin menelan salivanya dengan susah payah. Lantai yang dipijaknya tiba-tiba melesak hilang. Dia terombang-ambing di ruang hampa udara. 

Chanyeol memandang Sehun. Sehun angkat bahu.
Setelah kesadarannya pulih, Yifan memberikan bubble teanya pada Sehun dan berlari meninggalkan kawasan itu. Secepat yang dia bisa. Dia harus ke kantor agensi artis itu dan mencari jawaban kenapa lagunya bisa ada di sana.

“Hei, hei, Wu Yifan, kau mau kemana? Ya, Wu Yifan.” Chanyeol berteriak namun Yifan sudah masuk dalam kereta.
Jongin ikut berlari. Sehun, Chanyeol dan Junmyun berteriak-teriak namun hanya sia-sia belaka.

**

“Kau mau kemana Yifan?” Ibu Jongin masuk ke kamar Yifan ketika melihat keponakan jauhnya itu berkemas. “Kau sudah menelepon ibumu? Kau sudah bilang akan pulang?” tanyanya cemas.
Yifan mengusap kedua sudut matanya. Udara Korea rasanya terlalu pengap. Dia rindu rumahnya, rindu Ibunya. Dia ingin menghirup kembali udara di tanah kelahirannya, Guangzhou. Dia butuh menjauh dulu dari Korea. Untuk sementara dia tidak ingin berurusan dulu dengan apapun yang berhubungan dengan Korea. Korea telah menghancurkan segala impiannya. Korea yang dia harapkan dapat menjadi jalan baginya untuk menjadi musisi mengkhianatinya.
Kim Jongin mengkhianatinya.

Sahabat yang sudah dia anggap adik sendiri telah menghancurkan impiannya. Dia menjual lagunya ke seorang produser tanpa meminta izin. Masalahnya itu bukan lagu sembarangan. Itu lagu ciptaannya yang paling istimewa. Secara tidak langsung Jongin juga telah menghancurkan hatinya.

“Kau sudah pikirkan masak-masak?” ibu menyentuh lengan Yifan. Mencoba meredakan emosinya. Ibu melirik Jongin yang ada di balik daun pintu, menyuruhnya pergi. Semalam mereka bertengkar hebat. Dan kedua remaja itu menangis. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada mereka.

“Aku akan menghabiskan sisa liburan musim panas di rumahku, Bi,” Yifan mencangklong ranselnya. “Terimakasih sudah banyak membantuku selama ini dan mengizinkanku tinggal di sini.”
“Yifan-ah…” Ibu hampir menangis.
Yifan memberi Ibu Jongin pelukan sekilas. “Nanti kalau sudah di Guangzhou aku akan menelepon Bibi,” dia tersenyum tipis.
“Kau akan kembali kan?” Ibu Jongin harus mendongak karena Yifan lebih tinggi darinya.

Sekali lagi Yifan memeluk Ibu Jongin. Dia belum memutuskan akan kembali atau tidak. Jika Ibunya mampu meredakan kemarahannya dan membujuknya mungkin dia akan kembali.

“Aku pulang dulu, Bi.”

Ibu Jongin menggeleng namun Yifan tetap menyeret kopernya keluar kamar. Dia berhenti di pintu, membelakangi Jongin yang segera mengusap air matanya. Jongin hanya menunduk, tidak memiliki nyali untuk menatap wajah Yifan.

“Jongin-ah…” kata Yifan lirih, nyaris berbisik. 

“Aku pamit dulu. Kalau kau ada waktu, berliburlah ke Guangzhou. Kau harus coba menginap di rumahku.” Dia meletakkan kedua tangannya di bahu Jongin lalu memeluknya. Tidak ada bedanya dengan mendekap batu. Keras dan dingin. Yifan mengumpulkan segenap kekuatannya untuk melakukan itu.

“Aku pulang Jongin-ah,” Yifan menarik kopernya dan tidak berbalik lagi. Tidak peduli pada Jongin yang melorot ke lantai dan menangis terisak.
Yifan akan merasa lebih hancur jika menoleh ke belakang.

**

“Paman, bisa berhenti sebentar. Aku ada urusan, tidak akan lama.” Yifan menjulurkan kepalanya ke depan, meminta sopir taksi menghentikan mobil. Ada yang harus dia lakukan. Dia tiba-tiba teringat sesuatu saat melewati sungai Han. Gadis itu. Dia ingin melihatnya. Walaupun mungkin untuk terakhir kali.

“Terimakasih, Paman,” Yifan segera turun ketika taksi yang dia tumpangi berhenti. Yang dia bawa hanya EOS 7Dnya. Hadiah ulang tahun dari Ibunya. Mungkin dia akan lama tidak melihat gadis itu jadi harus memotretnya untuk obat saat merindukannya nanti.
Mungkin dia adalah satu-satunya hal indah yang diberikan Korea untuknya.

Dia melangkah cepat, mencari-cari diantara kerumunan turis yang menikmati musim panas di Korea. Menyibak barisan penonton busker sungai Han. Tidak menemukannya, dia berjalan lebih jauh.
Yifan menghela napas panjang, apa dia tidak datang hari ini? Dia ada di mana? Dia segera mencari lagi.

Yifan hampir menyerah ketika gadis itu datang. Dia berlari-lari kecil hingga rambut pendeknya bergoyang-goyang. Wajahnya tampak ceria dan wajahnya merekahkan senyum. Dia segera mengarahkan lensa kameranya.

“Jongin-ah!” suara itu bersamaan dengan munculnya seseorang dari balik pohon. Detik berikutnya gadis itu memeluk orang yang dipanggilnya dengan erat. Detik yang sama dengan saat Yifan menekan tombol di kameranya. Semuanya terjadi di saat yang bersamaan.

“Jongin-ah…” Eun Ha tidak tahu harus bagaimana dia mengekspresikan kebahagiaannya sekarang. 

“Berkat kau Eun Jung bisa sembuh, terimakasih Kim Jong In.” Dia tidak perlu bersusah payah mencari banyak uang lagi. Sekarang dia bisa menggunakan gajinya untuk membeli apapun yang dia suka.

Jongin membalas pelukan Eun Ha, getir. Hatinya mengucap beribu maaf.

Yifan menatap apa yang ada di layar display kameranya lalu memejamkan mata.

Dia mengambil keputusan saat itu juga. Tidak akan kembali ke Korea setelah liburan berakhir.
Tidak perlu.
END.

A Man For My Bestfriend

Yunayong Present

*.Title : A Man For My Bestfriend*.Author : Yunayong

*.Cast :

– Yoo Eunbyeol (OC)

– Song Yunhyeong (Ikon)

*.Length : Oneshot

*.Genre : AU, Family

*.Rating : PG 13

*.Summary :

   Bagaimana perasaanmu saat kau harus menyerahkan pengantin priamu pada seorang sahabat? —유은별
.

.
A Man For My Bestfriend~

Di sebuah restoran mahal yang tengah ramai di kunjungi ini, seorang gadis tengah terduduk di bawah beralaskan lantai yang dilapisi red carpet.

Dia menekuk lututnya sambil terus menangis. Wajahnya dia sembunyikan, tetapi punggungnya sedari tadi terus bergetar hebat.

“Ya Tuhan! Eunseol-a, wae geurae(ada apa)?” Tiba-tiba seorang gadis lain yang tengah memakai coat berwarna hijau itu menghampiri gadis yang tengah menangis tadi.
Tak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, gadis ini memaksakan untuk mengguncang pelan tubuh gadis itu. “Eunseol-a! Kau ini kenapa? Ada apa lagi dengan tunanganmu itu hah?”
Mendengar suara bentakan yang dilontarkan untuknya, gadis bernama Eunseol itu mendongkak dan menatap gadis ini. Dengan segera dia memeluknya dan kembali menangis lagi, membasahi coat hijau milik gadis ini.

“Aku ingin pulang Byeol!”
.

.
Sepasang gadis kini terdiam di jok belakang dari mobil mewah yang mereka tumpangi. Dua orang gadis yang sangat cantik. Mereka sama-sama cantik.
Biar ku jelaskan.

Gadis yang tengah memakai gaun satin warna peach selutut kini tengah memasang wajah datarnya. Meski begitu dia tetap terlihat cantik.

Gadis ini bernama Eunseol. Lebih tepatnya Yoo Eunseol.

Dia memakai riasan natural di wajah cantiknya, memakai heels setinggi empat centi serta tas tangan warna putih keluaran Hermes. Di pipinya masih tertinggal bekas dari sungai kecil yang mengalir karena insiden di Restoran tadi.
Sedangkan gadis di sampingnya yang kini tengah menyandarkan sikutnya di jendela mobil serta telapak tangan yang ia gunakan untuk menyanggah senderan dari kepalanya. Dia hanya memakai kaus abu kebesaran di dalam coat warna hijau militer serta jeans hitam panjang. Tadi kalian dengar bukan jika ada yang memanggilnya dengan sebutan ‘Byeol’.

Dia bernama Eunbyeol. Yoo Eunbyeol, kakak dari gadis di sampingnya—Eunseol.

Tenang saja, mereka hanya berjarak lima belas menit. Maka dari itu Eunseol hanya memanggil namanya.

Mereka ini adalah puteri kembar dari pasangan terharmonis di kalangan militer.
Kalian tahu Yoo Jinsu?

Seorang pria dari Angkatan Udara Korea Selatan. Beliau adalah Letnan Kolonel terbaik di Angkatan Udara. Letnan Kolonel Yoo menikah dengan seorang penulis sederhana yang bernama Yoon Ayoung.

Tuan dan nyonya Yoo ini dijuluki sebagai pasangan yang paling harmonis oleh kemiliteran Korea. Mereka telah memiliki empat orang anak yang diantaranya kedua gadis cantik ini.

Mereka baru saja berumur duapuluh dua tahun.

“Byeol, tolong jangan ceritakan ini pada Abeoji!” Tegur gadis di sisi kiri ini, Yoo Eunseol.

“Kenapa? Kau masih ingin melindungi Yeo Jingoo sialan itu?!” 

Eunbyeol, atau yang sering disebut Byeol itu menatap adik kembarnya tajam. Dia tak terima dengan perlakuan lelaki brengsek itu pada adiknya dan sekarang adik kembarnya sendiri telah meminta untuk jangan mengatakan ini pada ayah mereka? Ini konyol!
Eunseol meraih kedua tangan Eunbyeol lalu memegangnya dengan kelembutan. 

“Eonni, kumohon. Aku tak ingin Abeoji menyakiti seseorang. Bukan aku masih melindunginya, hanya saja kau tahu kan saat ini situasi antara Militer dan Kepolisian sedang tidak baik? Jika Abeoji tahu semua ini, maka dia akan otomatis menyerang ayah Jingoo yang berasal dari Kepolisian bukan Jingoo. Sedangkan yang melukaiku adalah Jingoo, eonni-ya aku tak ingin ada keributan antara Militer dan Kepolisian hanya karna sakit hatiku ini.”

Eunbyeol mengangguk paham dengan perkataan adiknya. Dia lalu memeluk adiknya dengan sayang, “Eunseol-a jangan khawatir. Aku akan berusaha membuatmu melupakan lelaki brengsek itu.”

Eunseol mengangguk kemudian membalas pelukan kakaknya.
.

.
“Temui aku di ruang kerja, sekarang!” Pria setengah baya itu langsung memasuki ruang kerjanya. Puteri kembar itu tercengang dengan bentakan dari ayahnya.
Sang ibu yang melihat ketakutan di mata puteri kembarnya langsung menyusul suaminya di ruang kerja.

“Oppa, kumohon jangan memakai emosimu. Kita bicara baik-baik saja di ruang keluarga,” Ucap sang isteri lembut sembari menarik lengan suaminya. Sang suami berdecak kesal. “Lain kali jangan pernah membujukku,” Ucapnya dengan kekehan.
Sudah kubilang bahwa mereka ini pasangan harmonis bukan?
.

.
“Wow, kalian sedang berkumpul tanpa aku rupanya. Menyebalkan sekali! Abeoji, kau akan memberikan kejutan untukku ya?” Lelaki ini dengan santainya menghampiri ruang keluarga yang sedang serius itu. Puk!

Satu bantal kursi berukuran besar tepat mengenai wajah tampannya. Itu lemparan keras dari Eunbyeol, adik pertamanya. “Yoo Shijin pergilah ke kamarmu dan ganti seragammu, setelah itu kau harus duduk di sini!” Tegas ayahnya dengan nada serius.

Lelaki bernama Yoo Shijin ini langsung menegakan badanya lalu memberi hormat pada ayahnya dengan pandangan lurus kedepan, setelah itu dia naik tangga dengan cepat.

Yoo Shijin, putera sulung dari Letnan Kolonel Yoo. Umurnya sekitar duapuluh empat tahun. Dia juga seorang abdi negara seperti ayahnya, pangkatnya masih sebagai Sersan Mayor.

“Abeoji kumohon jangan memperpanjang masalah ini. Selesaikan saja pernikahan eonni,” Kata Eunseol dengan menunduk. “Tidak bisa! Abeoji pernah mengatakan jika kalian ini lahir bersama, maka dari itu kalianpun akan melaksanakan pernikahan secara bersamaan!” Tegas ayahnya kukuh.

“Lalu aku bagaimana Abeoji? Apakah aku sudah boleh menikah?” Suara ketukan sandal yang bersal dari tangga membuyarkan situasi tegang ini. Lelaki itu—Yoo Shijin melompat di akhir anak tangga dan langsung berdiri di samping ayahnya dengan senyum manis yang melumpuhkan para gadis.

“Tidak sampai kau mendapat pangkat Letnan Satu!” Tolak ayahnya tegas. Seketika senyum manis di bibir Shijin lenyap tergantikan dengan ekspresi cemberutnya. “Lagi pula kau ini akan menikah dengan siapa hmm?” Kini ayahnya bertanya dengan lembut. “Tentu saja dengan kekasihku,” Jawab Shijin dengan senyuman yang kembali terbit.

“Heh anak kecil, kau lupa jika dirimu bahkan belum menyukai gadis manapun, mana mungkin kau mempunyai kekasih?” Debat ayahnya. 

“Tentu saja aku punya!”

“Benarkah? Siapa dia?”

Shijin dengan santai berjalan ke arah samping ayahnya lalu memeluk leher ibunya dari belakang, “Ini wanita yang akan aku nikahi kelak.”
Cup! Shijin mencium pipi kanan ibunya. “Heh bocah! Dia milikku!” Yoo Jinsu—Letnan Kolonel—langsung merangkul isterinya tak terima.

“Hahaha kasihan kau hyeong!” Laki-laki lain yang saat ini tengah duduk di kursi yang sama dengan Eunbyeol dan Eunseol dengan puasnya menertawakan nasib Shijin. Dengan kesal Shijin melempar bantal besar itu, tapi langsung di hadang oleh adik perempuannya—Eunbyeol.

“Jangan sakiti adikku!” Desisnya tajam. “Heh kau pikir dia bukan adikku juga?” Shijin berdecak sembari berkacak pinggang.

“Seojin-a! Cepat ganti bajumu,” Titah sang ayah.

“Ne abeoji,” Jawabnya sembari melenggang ke kamarnya yang berada di lantai dua, sama seperti kamar para kakaknya. Ini dia anak bungsu dari Letnan Kolonel Yoo, namanya Yoo Seojin. Dia adalah siswa cerdas di Ansan Information industry High School dia juga memiliki paras yang tampan, seperti ayah dan juga kakak lelakinya. Yoo Seojin saat ini berumur delapan belas tahun, dan kalian tahu cita-citanya? Menjadi seorang prajurit Militer! Kurasa ini akan menjadi keluarga Militer.

“Abeoji.. nikahkan saja Kopral Jeong dengan Eunseol,” Kata Eunbyeol tiba-tiba. “Museun mal Eubyeol-a(Apa maksudmu Eunbyeol-a)?”

“Aku tahu jika selama ini Kopral Jeong diam-diam menyukai Eunseol, hanya dia tidak berani membatalkan perjodohan ini. Dia terlalu takut pada Abeoji,” Aku Eunbyeol jujur.

“Lalu eonni bagaimana?” Eunseol menatap kakaknya serius. “Aku hanya menyerahkan pengantin lelakiku padamu Eunseol-a, bukan gaun pengantinnya. Aku akan tetap menikah bersamamu nanti,” Kata Eunbyeol menjawab. 

“Tetap menikah bagimana?”
Shijin yang sedari tadi berdiri di samping kursi yang diduduki ayahnya, kini berjalan dengan perlahan lalu duduk diantara ayah dan ibunya. Plak! 

“Aww sakit abeoji,” Ucap Shijin meringis saat pantatnya sudah tepat dia atas kursi, sebuah tepukan keras di punggungnya dia dapatkan dari ayahnya.

“Aku akan menikah dengan lelaki yang dijodohkan dengan Eunseol sebelumnya oppa. Walaupun kita semua, belum pernah melihat wajahnya tapi aku bersedia.” Eunbyeol tersenyum tenang di akhir kalimatnya. “Kau mengambil keputusan yang tepat Eunbyeol-a, seminggu lagi kalian akan menikah.”

“Tapi bolehkah aku meminta izin untuk menemani sahabatku menghabiskan musim panasnya?” Semua orang menatap Eunbyeol—kecuali saudari kembarnya. “Nugu?”

“Eunseol mengajakku ke Jinan, untuk menghabiskan musim panas di sana.”
“Kau tidak mengajaku adik?” Shijin menatap adiknya dengan tatapan memelas.

“Tidak!” Tolak Eunbyeol

“Aku ikut nuna!” Pemuda itu baru saja menuruni tangga.

“Tidak!” Tolak Eunseol

“Eomma ikut!” Sang ibu mengacungkan tangannya.

“Tidak!” Kali ini sang suami yang melarang.

“Kita pergi bersama!” Seru si kembar Eunbyeol dan Eunseol lalu melakukan high-five dengan ceria.
.

.
Terangnya cahaya bulan tak membuat gadis yang tengah menangis ini berhenti. Cahaya alami itu menerobos melalui kaca besar yang hanya di tutupi oleh gorden transparan. Membuat kamar ini cukup terang walau tak ada lampu yang menyala di sini.

Gadis ini—Eunbyeol tengah menangis sesegukan dengan posisi lutut yang di tekuk juga wajah yang ditutupi oleh kedua telapak tangannya.
Jika saja dia sedang tak menangis, pasti dia nampak seperti dewi bulan yang sedang mengunjungi bumi. Pasalnya jika dilihat dari sebelah sisi, Eunbyeol sangat mengagumkan. Rambut ikalnya terus beterbangan pelan membuat orang yang melihatnya akan terpesona pada detik itu juga, termasuk seseorang yang tengah menyandarkan badannya di kusen pintu kamar ini.
Ayahnya memandang puteri sulungnya itu dengan takjub, puteri kembarnya memang sama-sama cantik. Tapi antara Eunbyeol dan Eunseol berbeda.

Jika Eunseol memiliki paras yang cantik dan anggun, beda halnya dengan Eunbyeol. Putrinya ini terkadang acuh dan cuek, tapi justru itu semakin membuat pesonanya bertambah. Walau dia tidak terlihat anggun seperti adiknya, tapi harus di akui jika Eunbyeol adalah wanita tercantik di sini. Ayahnya itu dengan sengaja mengetuk kusen tempatnya bersandar, memberitahu pada puterinya jika dia ada di sini.
Eunbyeol menoleh dengan cepat dan dia sedikit terkejut saat ayahnya tengah berjalan ke arahnya. Dengan kaos pendek berwarna abu juga celana training hitam, ayahnya itu masih saja terlihat tampan dan gagah.

“Abeoji sedang apa di sini?” Ayahnya sedikit mengerutkan kening ketika Eunbyeol berdiri.
Sebuah long dress putih berlengan pendek tengah Eunbyeol kenakan saat ini. Jinsu tak akan merasa aneh jika saja ini siang, ‘Ternyata kebiasaannya masih belum berubah?’ Yoo Jinsu bertanya dalam hati.

“Mengapa kau menjadi feminim saat malam? Dan Eunseol kebalikannya,” Decaknya.
Eunbyeol tersenyum lalu berlari untuk memeluk ayahnya. “Abeoji, aku akan bahagia kan dengan dia?”

“Yah. Kalian pasti akan bahagia. Sersan Song adalah anak yang baik dan sopan, kau sungguh bijaksana dengan menyerahkan pengantin priamu pada Eunseol.” Jinsu mendekap putrinya dengan erat. Sudah lama dia tak memeluk Eunbyeol seerat ini.

“Mau abeoji temani tidur hem? Anggap saja ini sebagai perpisahan sebelum kau menikah.” Eunbyeol mengangguk.

“Jika kau seorang pria, aku yakin kau akan menjadi prajurit!” Dan mereka tertawa bersama. “Apa eomma tak akan kesepian tanpamu abeoji?” Eunbyeol mendongkak menatap wajah ayahnya yang mulai banyak ditumbuhi kerutan. 

“Eommamu sedang menemani Eunseol tidur. Maka dari itu abeoji kesini,” Jelas Jinsu diakhiri dengan senyuman.

Eunseol’s Bedroom

“Kau dikhianati berapa kali?” Wanita setengah baya ini terus mengelus puncak kepala putrinya. “Jingoo selalu bermain api di belakangku eomma, aku sudah kebal. Maka dari itu aku tak akan sengsara karna dicampakan oleh dia,” Aku Eunseol sambil mendekap erat ibunya.

“Eomma rasa eonnimu itu tertarik pada Kopral Jeong. Tapi anehnya dia menukar pengantin prianya denganmu.” “Aku tahu jika eonni memang tertarik pada Chanwoo, apa eonni tak akan menyesal jika dia nanti menikah dengan Sersan Song?” Eunseol menatap dalam pada ibunya.

Ayoung menelisik manik mata putri keduanya itu. Dia tahu jika sekarang Eunseol tengah mengkhawatirkan kakaknya.”Eunbyeol adalah seorang gadis yang teguh pendirian. Sama seperti abeojimu,” Tandasnya.
.

.

.
Jinan

“Jadi maksudmu menghabiskan musim panas adalah.. berkemah?” Yoo Shijin bertanya ketika mereka sampai di daerah perhutanan Jinan. Saat melihat ada tiga tenda yang sudah berdiri sempurna, adik bungsu mereka—Seojin bersorak gembira. Eunseol dan Eunbyeol mengangguk bersama, lalu mulai menurunkan barang-barang mereka di mobil.

“Kalian tak salah mengajak kami berlibur di sini? Inikan hutan bodoh! Sangat berbahaya jika kita ada di sini,” Keluh Shijin tak terima.

“Kau yang bodoh oppa! Untuk apa kita takut? Kau adalah Sersan Mayor, dan abeoji Letnan Kolonel. Bukankah kita semua aman?” Debat Eunbyeol tak terima. “Hyeong, kau inikan prajurit! Mana mungkin kau takut,” Goda Seojin.

“Eunseol-a kajja kita pergi ke sungai!” Eunbyeol menggenggam tangan Eunseol lalu mengajaknya untuk pergi. “Kalian tak akan mengajak eomma?”

“Jika kami mengajak eomma, maka abeoji akan cemburu. Ingat itu eomma,” Kata Eunseol. “Nuna! Bagaimana denganku?” Teriak Seojin resah. Kali ini dia takut jika harus ditinggalkan berdua dengan kakak sulungnya, pasalnya hyeongnya itu akan terus mengerjainya. “Kau dengan hyeongmu saja Seojin-a. Bye~”
.

.

.
“Kau harus belajar mencintai Kopral Jeong, Eunseol-a.” Perintah Eunbyeol dengan serius. “Mengapa kau menyerahkannya padaku? Aku juga tahu jika kau menyukai Kopral Jeong,” Bantah Eunseol tak terima. Dia tahu bahwa kembarannya ini sangat-sangat menyayanginya. Tapi bukan berarti dia harus memberikan apa yang Eunseol mau kan?

“Aku ingin kau melupakan Yeo Jingoo. Cintailah Kopral Jeong untukku, eoh?” Eunseol mengangguk patuh. Setelah itu dia mendapatkan pelukan hangat dari kakaknya. “Terimakasih~ aku juga akan belajar mencintai Sersan Song,” Kata Eunbyeol lirih.

Wedding Days

Saling menggenggam mungkin salah satu cara untuk meredakan kegugupan. Saudari kembar ini tengah menggenggam tangan satu sama lain.

Penata rias profesional itu sudah keluar. Dan sekarang giliran abeoji mereka yang masuk, membuat atmosfir gugup semakin terasa diantara mereka. “Kajja, Eunbyeol kau lebih dulu melakukan pemberkatan.” Eunbyeol mengangguk dan berdiri menampakan gaun pengantinnya yang sangat indah.

Gaun pengantin warna putih yang memperlihatkan bahu kecilnya dengan bagian bawah mengembang dan berlengan panjang. Make up yang membuat Eunbyeol menjadi terlihat sangat cantik dan anggun. Rambutnya yang ikal di bawah hanya di biarkan tergerai, membuat kesan innocent karna rambutnya berwarna hitam. Anting mutiara tersemat di telinganya juga kalung sederhana yang terdapat mutiara di tengahnya. Dan jangan lupakan kerudung pengantin mempercantik tatanan rambutnya.

Jinsu memegang tangan kanan putrinya dan merasakan keringat di sarung tangan putrinya. Eunbyeol melangkahkan kakinya yang memakai high heels berwarna putih dengan tinggi 5 centi sama seperti yang dipakai Eunseol.

Eunseol berdiri menghampiri ayah beserta kakaknya. Mukanya memerah karna gugup. Jinsu juga memegang tangan Eunseol.
Eunseol mengenakan aksesoris yang sama dengan kakaknya. Hanya saja gaun pengantinnya sedikit berbeda. Gaun yang mengembang di bawah dan tidak berlengan jika saja brukat transparan itu tidak menutupi bagian atas dadanya hingga bahu.
Kini Eunseol berada di sisi kiri Jinsu dan Eunbyeol di sisi kanannya. 

“Kalian siap?”

“Ne abeoji,” Jawab mereka bersamaan.

Pintu itu terbuka menampakkan keadaan luar. beribu mata tertuju pada kedua gadis cantik ini. Saat langkah mereka dimulai, mars pengantin mengalun dengan indahnya mengiringi langkah mereka. 

Taburan kelopak bunga menaburi langkah mereka hingga di depan.
Jinsu menyerahkan Eunbyeol pada Sersan Song yang berdiri tegap dengan seragam formal Militer. Kemeja hijau muda yang dilapisi jas hijau tua lengkap dengan atribut kemiliteran.
Eunbyeol menundukkan kepalanya, walaupun rasa penasaran itu sangat besar tapi dia lebih memilih menunduk.

“Jaga baik baik putriku!” Titah Jinsu dengan pandangan serius. “Siap pak!” Jawabnya tegas.
Eunbyeol dan Yunhyeong—sersan Song telah mengucapkan janji suci sehidup semati. Mereka telah resmi menjadi pasangan suami-isteri, dan mereka baru pertama kali bertemu di saat pernikahan mereka berlangsung.

Yunhyeong yang melihat Eunbyeol terus menunduk awalnya penasaran dengan wajah gadis yang sudah menjadi isterinya ini. Tapi dia cukup senang melihat wajah Eunseol yang notabennya kembaran Eunbyeol. ‘Isteriku pasti juga cantik seperti kembarannya’ Yakinnya dalam hati.

Mereka telah resmi menjadi pasangan yang sah dalam agama maupun negara. Tapi bahkan Eunbyeol belum berani melihat wajah suaminya itu.

Yunhyeong tersadar dari lamunannya saat mendengar perintah untuk segera mencium isterinya. Walaupun dia gugup luar biasa tapi dia tetap mendekati isterinya dan memegang pinggang Eunbyeol lalu mendekatkannya.
Eunbyeol memekik pelan dan otomatis wajahnya menengadah melihat suaminya itu. Mata Eunbyeol membulat saat melihat wajah suaminya. 

“Kopral Jeong Chanwoo.” Gumamnya pelan.
Yunhyeong tersenyum dan dalam hati dia berkata, ‘Isteriku lebih cantik dari bayanganku selama ini.’ Lalu dia mulai mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Aku suamimu, Sersan Song Yunhyeong.” Tandasnya yang diikuti kecupan singkat di bibir plum Eunbyeol.
.

.
“Uwaah daebak!” Shijin menghampiri dua pasangan pengantin itu.

“Apakah ini takdir abeoji?” Shijin menelisik wajah kedua menantu rumah ini—yang juga berarti kedua adik iparnya—Chanwoo dan Yunhyeong. “Kalian ini mempunyai kemiripan wajah! Adik kembarku menikah dengan pria yang juga terlihat kembar. Selamat untuk kalian!” Shijin bertepuk tangan.

“Bahkan aku tidak menyadari jika Sersan Song dan Kopral Jeong mempunyai wajah yang sama. Mungkin ini takdir,” Kata Jinsu disertai senyuman wajahnya.

“Jika Kopral Jeong aku sudah bosan melihatnya karna dia itu bawahanku. Pantas saja aku tak pernah merasa mengenalmu walau kau seorang Sersan. Kau kan dari Angkatan Darat,” Aku Shijin dengan kekehannya.

Yunhyeong tersenyum puas. Dia berterimakasih pada ayahnya karna telah menjodohkannya dengan isterinya ini. Yunhyeong yakin keluarga kecilnya nanti akan bahagia.

Yunhyeong mendekatkan wajahnya ke telinga Eunbyeol. “Aku menyukaimu, isteriku!”

END